Film Dengan Kekerasan dan Kesadisan Bukan Untuk Anak-Anak

16 Apr

Beberapa minggu yang lalu, saya memutuskan untuk menonton film “The Raid” yang sepertinya sudah populer di Indonesia, bahkan di negara lain. Merasa terdorong karena omongan-omongan orang, saya menjadi tergoda untuk menonton, walaupun sejak dulu.. saya selalu tidak tahan melihat film-film sadis.

Saya menonton film ini bersama kakak laki-laki saya di akhir pekan yang ramai, dan banyak sekali anak-anak di mana-mana. Tetapi, ternyata anak-anak ini juga ikut memasuki ruangan teater saya. Saya sudah tahu film ini film yang memiliki banyak kekerasan, tetapi saya tidak tahu kekerasan macam apa yang ditampilkan di film ini.

Saya banyak bertanya pada teman-teman.. The Raid itu kekerasan atau kesadisan seperti di film “Kill Bill” atau tipe-tipe sadisnya film “The Human Centipide” ?

Pada saat film The Raid sudah menampilkan adegan kekerasan, saya bisa mendengar seorang anak kecil menjerit dengan kencang. Ada anak yang lain yang mulai merengek dan menangis. Sayapun mulai berpikir… mengapakah anak kecil diperbolehkan untuk menonton film dengan kekerasan seperti ini? Bahkan saya sendiri kewalahan nontonnya, menutup-nutup mata dan ngumpet di belakang bahu kakakku. The Raid membuat karakter Batman sama culunnya seperti the Teletubbies.

Saya sangat menghormati orang tua yang segera meninggalkan teater dan membawa anaknya keluar supaya mereka tidak harus menonton film ini. Tetapi, beberapa orang tua lebih memilih duduk tenang dan membiarkan anak-anaknya menonton seluruh filmnya. Teganya mereka! Saya ingat pada saat umurku 6 tahun, saya menonton adegan orang ditembak di dada dan itu membuat saya trauma untuk seminggu. Anak-anak ini, umurnya di antara 5 – 8 tahun menonton orang saling menembak, orang – orang bertarung dengan golok, dan menghancurkan satu sama lain.

Anak-anak pada umur seperti itu tidak seharusnya menonton film dengan kekerasan dan kesadisan seperti itu. Pada saat mereka mulai kebal dengan adegan-adegan sadis pada saat umur yang masih sangat muda, hal ini sudah sangat bahaya. Penelitian sudah membuktikan bahwa anak-anak muda (yang sudah pasti memiliki pemikiran yang masih labil dan belum stabil) yang kebal akan kekerasan memiliki potensi untuk berpikiran bahwa kekerasan adalah jalan keluar untuk masalah apapun. “Kalau nggak suka, ya tonjok aja”. Anak-anak juga memiliki potensi untuk mengikuti apa yang mereka lihat di layar kaca.

Bahkan lebih mengerikan lagi jika mereka menyamakan diri dengan karakter-karakter yang menampilkan kekerasan tersebut.

Saya tidak menyalahkan orang tua mereka 100%, para penjual tiket, staff bioskop dan management bioskop semestinya lebih tahu. Teganya mereka membiarkan seorang anak kecil berumur 5 tahun menonton film seperti The Raid? Jika saya adalah salah satu anak itu, masa kecilku terpotong pada saat itu juga. Apakah bioskop-bioskop segitu rakusnya ingin membuahkan untung sampai mereka membiarkan anak-anak kecil menonton film dengan kekerasan? Seharusnya ada peraturan yang lebih ketat dan harus dijalankan dengan benar.

Besok-besok, tolong periksa lagi, film yang hendak Anda tonton cocok untuk usia seberapa? Jika banyak menampilkan kekerasan, tolong jangan bawa anak-anak. Biarkan mereka memiliki masa kecil yang normal. Di luar negeri, bioskop-bioskop dimonitor dengan ketat, kartu identifikasi sering diminta untuk bukti umur. Mengapakah kita tidak bisa melakukan hal yang sama?

Tetapi… cukup dengan omelan saya.. menurut saya, walaupun The Raid adalah film yang penuh kekersan, filmnya sangat bagus sekali. Film ini akan membantu mempromosikan Pencak Silat ke seluruh dunia, meningkatkan reputasinya dan mungkin bisa dilestarikan lebih baik lagi. Tetapi, film-film yang menampilkan adegan berkelahi yang terkoreografi seperti ini sebaiknya ditonton oleh orang yang cukup umur.

Alexia.

Tags: , , , , , , , , , ,

Monas: Bangun Kembali Rasa Nasionalisme Anda

16 Apr


Monumen Nasional, atau lebih dikenal dengan nama ‘Monas’, terletak di tengah-tengah kota Jakarta, dan berdiri sebagai ikon kota Jakarta dan simbol dari kerja keras bangsa Indonesia untuk kemerdekaannya. Saya mengaku bahwa saya baru saja mengunjungi tugu ini untuk pertama kali seumur hidup saya (dan masuk ke dalam). Memang sangat memalukan sih, untuk orang Indonesia yang sudah berumur 25 tahun, tinggal di Jakarta pula.

Banyak orang Jakarta lainnya juga belum sempat-sempatnya pergi ke Monas. Menurut mereka “Ah, saya kan tinggal di Jakarta, saya bisa ke sana kapan saja”, tetapi mereka tidak berusaha. Malah, orang-orang dari luar kota lebih sering datang ke Monas.

Sewaktu saya berjalan-jalan di dalam kompleks Monas, saya juga sadar bahwa bagian luar dan dalam sangat bersih dan terrawat. Dibandingkan dengan museum-museum lainnya yang sudah saya kunjungi, Monas merupakan kejutan yang bagus. Hanya, pintu masuknya sedikit susah dicari..

Sayangnya, jika Anda ingin melihat pemandangan panorama kota Jakarta dari atas Monas, Anda harus bersiap-siap antri untuk satu jam ataupun lebih. Sewaktu saya ke sana, saya datang pada hari Kamis dan barisannya panjang luar biasa. Saya sangat senang melihat segitu banyaknya orang yang niat mengunjungi Monas, tetapi pada waktu yang sama, saya senang juga saya tidak menggunakan sepatu hak tinggi!

Walaupun isi dari Monas hanyalah kumpulan diorama yang menceritakan zaman-zaman tertentu di Indonesia, tetapi boneka-boneka kayu dalam diorama tersebut dapat membuat saya terharu. Melihat perjalanan negeri kita dari zaman pra-sejarah, sampai zaman kerajaan, dan bahkan sampai zaman kemerdekaan membuat saya sangat bangga. Perjalanan yang sudah kita tempuh itu sangat panjang. Kita kerja segitu kerasnya untuk kemerdekaan, dan kemerdekaan Indonesia sangatlah berarti untuk mereka yang ikut turun tangan dan berjuang untuk negara kita.

Setelah berjalan satu putaran di Museumnya, saya berpikir bahwa banyak sekali orang Indonesia yang sangat tidak menghargai usaha mereka yang sudah membebaskan negara kita. Orang Indonesia modern ternyata lebih suka dikolonialisasikan dengan pengaruh dan gaya hidup dari luar negeri.

Kita memiliki sejarah yang luar biasa, apalagi jika kita mempelajari Kerajaan Majapahit, sewaktu kita memiliki empire yang luar biasa besarnya. Bahkan pada saat adanya Dinasti Sanjaya dan Syailendra, Hindu dan Buddha bisa hidup dengan damai berdampingan. Sekarang, Indonesia telah berubah menjadi negara penuh korupsi, di mana yang rakus bisa hidup dengan tenang di tengah-tengah kemewahan. Apakah yang telah terjadi dengan kita? Apakah yang telah terjadi dengan kobaran api di dalam kita? Kobaran api yang dulu kita miliki sewaktu kita meraih kemerdekaan.

Satu-satunya rasa nasionalisme tinggi yang sangat terlihat zaman sekarang adalah hanya sewaktu Tim Sepak Bola Indonesia bertanding melawan Tim Sepak Bola Malaysia. Walaupun ini semua telah terjadi, Monas membuat saya bangga kembali akan Indonesia. Tidak semua negara di bumi ini berjuang untuk kemerdekaannya.

Mengunjungi Monas mengingatkan saya bahwa kita harus selalu memiliki semangat untuk menolong negara kita. Janganlah menyia-nyiakan usaha besar yang telah dilakukan oleh leluhur kita yang berjuang untuk negara kita ini.

Sudahkah Anda pergi ke Monas? Jika belum, kunjungilah. Saya senang saya pergi mengunjunginya.

Alexia

Tags: , , , , , , ,

Jangan Hanya Mempelajari Agamamu Sendiri..

22 Mar

Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan beberapa anak sekolahan yang baru saja mendapatkan hasil ulangan pelajaran Agama mereka. Anak-anak ini berasal dari kelas yang sama, dan agama mereka kalau tidak Islam, Kristen atau Katolik. Yang Islam mengerjakan ulangan Agama Islam, yang Kristen mengerjakan ulangan Kristen dan seterusnya. Tiba-tiba, saya mulai sadar bahwa anak-anak, dimulai sejak umur yang sangat muda, disuruh untuk mempelajari hanya agamanya sendiri-sendiri.

Pendidikan Agama sudah menjadi bagian dari sistim pendidikan di Indonesia untuk waktu yang lama. Saya setuju jika anak-anak bisa belajar mengenai agamanya masing-masing. Namun, bukankah lebih baik jika mereka juga mempelajari tentang agama-agama yang lainnya?

Pada saat saya masih bersekolah, saya ingat pada saat pelajaran Agama dimulai, murid-murid dari satu kelas berpisah ruangan untuk mempelajari agamanya masing-masing. Yang Kristen, yang Islam, yang Buddha, yang Hindu, yang Katolik, semua belajar sendiri-sendiri. Saya merasakan sebuah perpisahan. Seharusnya pelajaran Agama Islam atau pelajaran Agama Kristen atau pelajaran Agama spesifik lainnya tidak ada, dan yang ada adalah pelajaran Teologi. Pada pelajaran teologi ini, semua anak-anak mempelajari mengenai seluruh kepercayaan, agama dan spiritualitas di dunia.

Di dunia ini ada ratusan agama, kepercayaan dan spiritualitas, karena seperti yang kita tahu, sebagai manusia, kita tidak bisa memiliki cara pikir yang sama. Kita memiliki pendapat yang berbeda, kita memiliki cara berterima kasih yang berbeda, dan sudut pandang yang berbeda. Dengan ini, banyak juga cara-cara untuk berdoa. Orang-orang hidup dan dibesarkan di bagian dunia yang berbeda dengan budaya yang berbeda juga. Kita tidak bisa dipaksa untuk menjadi sama. Masalahnya, ada beberapa dari kita yang tidak bisa toleransi dan mengapresiasi perbedaan sesama manusia. Beberapa orang lebih suka jika kita semua memiliki sudut pandang dan cara pikir yang sama.. dan itu tidak mungkin bisa.

Saya yakin hal ini hanya bisa diimplementasikan secara pelan-pelan, dan saya yakin banyak orang tua murid yang tidak setuju jika anak-anaknya mempelajari agama-agama lain. Tetapi, kita harus membuka pikiran anak-anak muda, berikan mereka pandangan dunia yang lebih luas. Jangan biarkan mereka berpikiran sempit sampai mereka tidak bisa melihat kanan dan kiri mereka. Biarkan anak-anak Kristen belajar tentang Ramadan dan anak-anak Islam mempelajari tentang Diwali.

Jika dalam satu ruangan kelas semua anak bisa mempelajari tentang banyak agama, mungkin saja ini bisa membantu memberhentikan anak muda tumbuh dewasa menjadi orang yang tidak toleran, atau lebih gawat lagi, menjadi ekstrimis. Dengan adanya pelajaran yang mengajarkan semua agama di dunia, mungkin bisa mengajar generasi muda kita bahwa semua agama di dunia, walaupun memiliki cara berbeda untuk berdoa, ritual-ritual yang berragam, dan cara-cara berbeda untuk bersyukur, agama-agama ini memiliki SATU TUJUAN YANG SAMA – Kedamaian.

Alexia.

Tags: , , , , , , , , ,

Pesan Broadcast BBM Yang Bodoh Jangan Diteruskan

15 Mar

Pernahkan Anda membuka  notifikasi BlackBerry Messenger (BBM) dan menemukan pesan broadcast yang isinya hanya omong kosong?

Saya sendiri memiliki ponsel BlackBerry, dan fitur BBM memang sangat berguna. Tetapi saat orang-orang mulai menyalahgunakan fitur BBM ini, lama-lama menyebalkan juga. Pernah saya mendapatkan pesan broadcast yang mengatakan bahwa jika saya tidak meneruskan pesan tersebut, saya adalah orang yang sangat berdosa dan tidak layak diselamatkan pada saat kiamat yang digosipkan akan datang pada akhir tahun 2012 ini.

Sepertinya memang ada orang yang ingin mencari perhatian, atau ada orang yang cukup bodoh untuk mempercayai kalau ia tidak meneruskan pesan ini, ia akan masuk neraka… bla bla bla.

Contoh pesan broadcast lainnya yang menyebalkan adalah pesan-pesan yang yang terdengar seperti berikut: “jika kamu benar-benar mencintai ibumu, kamu  harus meneruskan pesan ini ke teman-temanmu..” Ya.. sebenarnya sih saya benar-benar mencintai ibuku, hanya saya tidak memiliki waktu untuk berikut serta dalam kebodohan ini.

Tetapi, tipe pesan broadcast yang lebih tolol lagi, adalah tipe pesan yang dimulai dengan cerita setan. Ujung dari pesan broadcast itu biasanya mengatakan bahwa jika kita tidak meneruskan pesan broadcast itu, kita akan digentayangi hantu yang diceritakan di pesan itu. Setiap kali pesan seperti ini terkirim di ponsel saya, saya hanya bisa tepok jidat dan menghapusnya. Orang-orang benar-benar mempercayai sampah seperti ini? Memangnya hantunya akan memperhatikan setiap ponsel di Indonesia dan akan menggentayangi tiap orang yang tidak meneruskan pesan broadcast tersebut?? Astaga, memangnya kehidupan setelah kematian segitu membosankannya ya?

Saya mengerti jika orang suka bersosialisasi melalui ponsel BlackBerrynya, tetapi saya hanya ingin orang-orang menggunakan ponselnya lebih baik dan memberikan pesan yang lebih berguna. Mengapa menggunakan energimu untuk hal-hal yang tidak masuk akal, meneruskannya dan mengganggu orang lain? Saya tahu topik hari ini memang tidak terlalu serius seperti biasanya, tetapi saya rasa meneruskan pesan BBM yang tidak masuk akal hanya membodohkan otak-otak labil anak-anak muda, bahkan orang dewasa.

Jadilah pengguna BlackBerry yang lebih pintar, dan tolong jangan merasa diharuskan untuk meneruskan pesan-pesan omong kosong. Beberapa orang memang merasa tertekan dengan keadaan sosialnya, tapi ada juga orang-orang yang meneruskan pesan broadcast bodoh karena mereka ingin cari perhatian. Guna dari BBM adalah untuk berkomunikasi dan mengabari, bukan sebuah arena untuk memamerkan popularitas atau menunjukkan kalau kamu ‘eksis’.

 

Alexia.

Tags: , , , , , , ,

Masa Depan Indonesia Menggantung di Atas Tali

6 Mar

Setiap pagi di Indonesia, anak-anak bangun dan bersiap-siap untuk ke sekolah. Beberapa anak-anak diantar oleh orang tua, ada yang dijemput dengan bis sekolah, ada yang mengendarai sepeda. Tetapi sedihnya ada beberapa yang nasibnya tidak sebaik itu.. banyak anak-anak Indonesia yang harus menyebrangi sungai besar menggunakan tali-tali saja karena tidak ada jembatan yang dibangun di situ. Bahkan terkadang mereka harus bolos sekolah jika hujan terlalu deras karena air sungai meluap dan air hujanpun membuat mereka susah melihat.

Lumayan emosional sewaktu saya melihat anak-anak ini menyebrangi sungai yang kotor, kadang tidak menggunakan alas kaki. Keinginan mereka untuk sekolah sangatlah kuat, tetapi pemerintah setempat tidak memberikan mereka fasilitas yang layak untuk pendidikan mereka.

Di propinsi Banten, jembatan sangatlah dibutuhkan. Walaupun penduduk setempat sudah meminta struktur jembatan yang sangat sederhana, tetapi tetap saja diabaikan oleh pemerintah. Seakan-akan nyawa anak-anak sekolahan ini tidak penting atau tidak diprioritaskan. Apakah salahnya menginvestasi untuk membuat jembatan? Jembatan tidak hanya bisa digunakan oleh anak-anak tetapi juga bisa menjadi struktur akses buat orang-orang di sekitar juga seperti pedagang, dan lain-lain.

Saya ingin tahu ke mana perginya semua anggaran pemerintah setempat.. Prioritas utama pemerintah itu apa sih sebenarnya? Menurut saya, kebutuhan masyarakat untuk memiliki jembatan-jembatan ini adalah sebuah hal yang mendadak, mengapa tidak langsung ditangani ya?

Hal ini juga lumayan memalukan di mata internasional. Video-video dan foto-foto anak-anak bangsa kita yang sedang menyebrangi sungai dengan dua ikat tali tersebar keliling dunia. Apakah Indonesia ingin ditampilkan di negara lain sebagai negara yang tidak peduli akan keamanan generasi penerus?

Sekarang karena seluruh dunia sudah mengetahui tentang hal ini, bukankah sebaiknya hal ini kita tangani secepat mungkin?

Sangatlah buruk untuk pemerintah negara kita untuk membelanjakan biliaran rupiah untuk membangun gedung DPR yang baru, sewaktu uang-uang itu bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih penting seperti jembatan dan renovasi sekolah-sekolah. Atau bisa saja kita gunakan uang itu untuk membetulkan jalanan, membetulkan sistim transportasi umum, membangun fasilitas kesehatan yang lebih baik, atau membangun perpustakaan di daerah terpencil. Pada saat-saat seperti ini, uang negara seharusnya digunakan untuk hal-hal yang penting dan mendadak.

Alexia.

Tags: , , , , ,

Malas dan Egois di Jalan Raya Bisa Mengakhiri Hidupmu

5 Mar

Jalan-jalan di kota Jakarta merupakan jalan yang paling sibuk di negara Indonesia. Hal yang sering kita lihat sewaktu kita melihat ke luar jendela mobil adalah sebuah keluarga di atas motor, kebanyakan dari mereka tidak menggunakan helm, dan yang paling parah, anaknya sedang dalam keadaan berdiri di atas kursi motor tersebut.

Sudah diprediksi bahwa kematian yang diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas akan mencapai 65,000 jiwa sampai pada tahun 2020 jika masalah ini tidak ditangani dengan baik. Sembilan puluh persen kecelakaan melibatkan motor.

Hal ini memiliki beberapa alasan. Orang Indonesia memang hebat berpikir kreatif pada saat mereka ingin menang sendiri, bahkan jika mereka melanggar hukum. Maka banyak dari mereka main sogok saja sewaktu mereka ingin membuat SIM (Surat Izin Mengemudi), bahkan sewaktu mereka belum lulus tes menyetir dan belum layak menyetir di jalan raya. Jadi, di luar sana banyak sekali pengendara mobil yang belum cukup pengalaman dan pengetahuan mengenai menyetir, tetapi tetap memaksakan kehendaknya untuk mengendara mobil di jalan raya.

Contoh lain yang mengakibatkan kematian atau cedera, adalah orang terlalu malas menggunakan sabuk pengaman atau helm. Saya ingat tiap kali saya ke kota Solo, kebanyakan orang di jalan raya menggunakan helm, mengapa Jakarta tidak bisa sama? Tidakkah orang menghargai hidupnya lagi? Sangatlah mencemaskan sewaktu saya melihat sekeluarga di atas motor, ayahnya di depan menggunakan helm, tetapi anak dan istrinya tidak memakai helm. Tidakkah mereka tahu kalau jalanan kita memiliki banyak lubang-lubang yang kadang susah terlihat mata?

Alasan-alasan lain adalah karena orang menggunakan ponsel sewaktu berkendara, berkendara dengan keadaan kurang sadar atau mabuk, atau cuek terhadap peraturan lalu lintas. Kita tidak pernah menyangka kalau kecelakaan-kecelakaan ini akan terjadi pada kita. Kita masih diberi kesempatan untuk melindungi kita sendiri dan orang-orang tercinta, jangan mengabaikan seberapa pentingnya sabuk pengaman dan helm… dan tolong deh.. orang itu seharusnya duduk di motor, bukan berdiri. Kecuali kalau Anda memang seorang pemain sirkus profesional.

Memang sudah ada sistim yang diadakan untuk mendapatkan SIM, tetapi sistimnya terlalu fleksibel. Pengendara mobil/motor/truk/bis dll di Indonesia harus tahu antara benar dan salah, dan harus latihan menyetir di jalanan yang sedang dalam keadaan kering dan basah.

Pemerintah setempat juga harus mengatur anggaran supaya mereka bisa membetulkan jalanan-jalanan yang sudah rusak. Jangan menunggu sampai terlalu banyak orang yang meninggal akibat kerusakan jalanan tersebut. Di sini terlalu banyak otak-otak malas yang berkata “paling nanti ada yang membetulkan”.. atau orang sok tahu dan berkata “kalau ada lubang paling aku juga bisa lihat dan menghindar.”

Ini bukan hanya tentang keselamatan Anda dan orang-orang tercinta Anda, tetapi kita juga harus berusaha untuk membuat jalanan-jalanan kita lebih aman.

Alexia.

Tags: , , , , , ,

Orang Indonesia dan “Mental Domba”

19 Feb

Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara – negara lain. Tetapi, saya ingin berbicara tentang topik ini karena ini adalah salah satu hal mengapa Indonesia tidak maju-maju. Indonesia itu penuh dengan orang-orang dengan ‘mental domba’. Maksudnya, banyak orang yang ikut-ikutan orang lain dan tidak mau berpikir dan beropini untuk diri sediri.

Salah satu contoh mudah yang bisa saya berikan adalah saat Anda sedang berjalan di trotoar, dan jalanan besar di samping Anda sangatlah penuh dan macet. Tiba-tiba seorang pengendara motor melewati trotoar tersebut karena sudah tidak sabar menunggu di kemacetan. Melihat pengendara motor itu menggunakan trotoar, pengendara motor yang lain ikut-ikutan karena, hei – kalau pengendara motor yang itu bisa, ya aku bisa juga! Padahal seperti kita semuanya semestinya sudah tahu, trotoar hanya untuk pejalan kaki. Pengendara motor yang melewati trotoar akhirnya menyuruh pejalan kaki minggir, padahal mereka di tempat yang salah.

Walaupun hal itu salah, mereka hanya saling mengikuti seperti sekelompkan domba.

Contoh lainnya, jika seseorang membuat kesalahan yang besar, orang-orang berkumpul dan membicarakannya di belakang punggungnya, atau lebih buruk – mereka menjatuhkan orang itu secara publik. Itulah yang terjadi oleh Arfriani setelah kejadian Tugu Tani. Seluruh Indonesia menjelek-jelekannya dengan cara tidak berkelas dan main hakim sendiri.

Dan saya benar-benar tidak suka rasa benci yang berlebihan pada Malaysia. Kalau soal menjelek-jelekan negara lain kita malah jagoan sekali. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya tidak didorong atau dihimbau. Tetapi dengan mentalitas domba ini, orang-orang jadi merasa nyaman untuk saling menjatuhkan, hanya karena orang – orang di sekitarnya hobi menjatuhkan orang lain..

Untuk generasi muda, menggencet adalah salah satu kegiatan yang menggunakan mental domba. Beberapa anak lebih mau mengikuti orang-orang yang berstatus “populer” di sekolah karena hal itu membuat mereka merasa lebih aman dari hujatan/omongan orang lain. Jika mereka berteman dengan anak-anak populer, mereka merasa lebih ‘hebat’ dari yang lain. Walaupun tidak ada salahnya menjadi orang populer, apalagi jika populer karena hal yang baik.

Sewaktu Anda masih muda, dan masih mencari jati diri, Anda memang masih suka mengikut-ngikuti orang lain, dan hal itu normal. Tetapi, sewaktu Anda sudah dewasa, Anda harus sudah bisa membedakan antara benar atau salah – dan sudah bisa untuk berpikir dan beropini untuk diri sendiri. Kita itu manusia, yang sering dibilang-bilang “makhluk paling mulia”… beda seperti hewan, kita diberikan logika. Jadilah diri sendiri, beranilah sedikit, milikilah prinsip sendiri, dan jangan ikut-ikutan yang tidak benar.

Alexia.

Tags: , , , , , , ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 169 other followers