Beberapa minggu yang lalu, saya memutuskan untuk menonton film “The Raid” yang sepertinya sudah populer di Indonesia, bahkan di negara lain. Merasa terdorong karena omongan-omongan orang, saya menjadi tergoda untuk menonton, walaupun sejak dulu.. saya selalu tidak tahan melihat film-film sadis.
Saya menonton film ini bersama kakak laki-laki saya di akhir pekan yang ramai, dan banyak sekali anak-anak di mana-mana. Tetapi, ternyata anak-anak ini juga ikut memasuki ruangan teater saya. Saya sudah tahu film ini film yang memiliki banyak kekerasan, tetapi saya tidak tahu kekerasan macam apa yang ditampilkan di film ini.
Saya banyak bertanya pada teman-teman.. The Raid itu kekerasan atau kesadisan seperti di film “Kill Bill” atau tipe-tipe sadisnya film “The Human Centipide” ?
Pada saat film The Raid sudah menampilkan adegan kekerasan, saya bisa mendengar seorang anak kecil menjerit dengan kencang. Ada anak yang lain yang mulai merengek dan menangis. Sayapun mulai berpikir… mengapakah anak kecil diperbolehkan untuk menonton film dengan kekerasan seperti ini? Bahkan saya sendiri kewalahan nontonnya, menutup-nutup mata dan ngumpet di belakang bahu kakakku. The Raid membuat karakter Batman sama culunnya seperti the Teletubbies.
Saya sangat menghormati orang tua yang segera meninggalkan teater dan membawa anaknya keluar supaya mereka tidak harus menonton film ini. Tetapi, beberapa orang tua lebih memilih duduk tenang dan membiarkan anak-anaknya menonton seluruh filmnya. Teganya mereka! Saya ingat pada saat umurku 6 tahun, saya menonton adegan orang ditembak di dada dan itu membuat saya trauma untuk seminggu. Anak-anak ini, umurnya di antara 5 – 8 tahun menonton orang saling menembak, orang – orang bertarung dengan golok, dan menghancurkan satu sama lain.
Anak-anak pada umur seperti itu tidak seharusnya menonton film dengan kekerasan dan kesadisan seperti itu. Pada saat mereka mulai kebal dengan adegan-adegan sadis pada saat umur yang masih sangat muda, hal ini sudah sangat bahaya. Penelitian sudah membuktikan bahwa anak-anak muda (yang sudah pasti memiliki pemikiran yang masih labil dan belum stabil) yang kebal akan kekerasan memiliki potensi untuk berpikiran bahwa kekerasan adalah jalan keluar untuk masalah apapun. “Kalau nggak suka, ya tonjok aja”. Anak-anak juga memiliki potensi untuk mengikuti apa yang mereka lihat di layar kaca.
Bahkan lebih mengerikan lagi jika mereka menyamakan diri dengan karakter-karakter yang menampilkan kekerasan tersebut.
Saya tidak menyalahkan orang tua mereka 100%, para penjual tiket, staff bioskop dan management bioskop semestinya lebih tahu. Teganya mereka membiarkan seorang anak kecil berumur 5 tahun menonton film seperti The Raid? Jika saya adalah salah satu anak itu, masa kecilku terpotong pada saat itu juga. Apakah bioskop-bioskop segitu rakusnya ingin membuahkan untung sampai mereka membiarkan anak-anak kecil menonton film dengan kekerasan? Seharusnya ada peraturan yang lebih ketat dan harus dijalankan dengan benar.
Besok-besok, tolong periksa lagi, film yang hendak Anda tonton cocok untuk usia seberapa? Jika banyak menampilkan kekerasan, tolong jangan bawa anak-anak. Biarkan mereka memiliki masa kecil yang normal. Di luar negeri, bioskop-bioskop dimonitor dengan ketat, kartu identifikasi sering diminta untuk bukti umur. Mengapakah kita tidak bisa melakukan hal yang sama?
Tetapi… cukup dengan omelan saya.. menurut saya, walaupun The Raid adalah film yang penuh kekersan, filmnya sangat bagus sekali. Film ini akan membantu mempromosikan Pencak Silat ke seluruh dunia, meningkatkan reputasinya dan mungkin bisa dilestarikan lebih baik lagi. Tetapi, film-film yang menampilkan adegan berkelahi yang terkoreografi seperti ini sebaiknya ditonton oleh orang yang cukup umur.
Alexia.
Tags: darah, film, golok, kekerasan, Komik, sadis, tembak, the raid, violence, violent, Wayang


















Komentar Paling Akhir